Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Propaganda Terkomputasi

 


MEDIA NETIZEN,Inilah yg sy maksud di novel Bungkam Suara. Bahwa ada byk sekali orang yg siap jd sasaran empuk propaganda terkomputasi, proxy war, ajang cuci otak dst.


Apa lagi, beuhhhh, baca buku sudah tak pernah lagi. Tamat sekolah, tamat jg membacanya. Kepala tak lagi diasah. Bahkan yg follow akun ini aja, sebagian ada yg gak tahu kalau ini akun penulis novel. Tahunya ini akun tukang quotes. Giliran jarang posting quotes, dia protes, ngatur2, ngancam2 dsb. *emot lope2


Nah habit scrolling itu bgmn? Begini. Pertama, saat ada drama sensasi unfaedah, dia akan cari sampai ke akar2nya drama itu. Sesekali ikut jg menghujat, spall-spill, cancal-cancel, melampiaskan btp payahnya hidupnya, lewat orang lain yg melakukan kesalahan, yg kepleset, yg orang lain. 4 sehat menghujat.


Lalu apa yg dia scroll di hari itu, sebagian besarnya akan lupa. Bahkan bbrp detik setelah itu aja, lupa.


Kedua, validasi semu. Badai dopamin. Kamu senang sekali melihat satu jenis konten, atau satu drama unfaedah, lalu lihat lagi, lihat terus. Kamu dapat dopamin dari sana. Otakmu memproduksinya tanpa henti. Apa dampaknya ke kehidupan nyata? Susah fokus? Menghujat orang2. Lupa dgn sekitar, dsb.


Bang, tp abang kan jg buka medsos. Kawan, tahu kah kamu ada fitur schedule ada di IG ini? Bahkan sudah sejak lama, sejak IG bergabung dgn FB, ada jg fitur schedulenya. 50-70% postingan sy itu di-schedule. *kecuali postingan ini, sy unggah real time.


Ketiga, orang Indonesia scrolling menurut artikel Kompas ini adlh lebih dari 5 jam sehari. Skrg coba tanya pada yg udah baca karya sy. Brp lama mereka menamatkan satu judul karya itu? 2 jam, 4 jam, 6 jam. Kalau agak santai, bisa 8 jam, atau dua hari di akhir pekan.


Bertahun2 kemudian, saat mengingat2 jalan ceritanya, mereka tetap hafal. Kemampuan fokusnya terasah.


Sbg penutup, sy ingin mengingatkan. Bacalah minimal 2 buku per bulan, kawan. 1 buku fiksi, 1 non fiksi. Fiksi utk hati, non-fiksi utk kepala.


Di masa depan, tantangan dunia akan berubah. Anggap kamu jadi CEO atau investor. Nah, maukah kamu memilih manajermu, yg tidak pandai membaca buku? Maka, talenta yg akan menang nanti, adlh mereka yg rajin membaca.


Ah, tentu saja ajakan begini tidak menarik bagi kalian. Toh masih lama kan masa depan itu? Lebih tertarik yg cuan cuan cuannnn biar tahun depan, atau kalau perlu minggu depan lgsg kaya raya mlegedeshhhh.


Kita fair aja. Ada orang2 yg efektif sekali memanfaatkan internet dan media sosial. Utk

belajar, utk berjejaring, utk meningkatkan

values dirinya. Itu sah saja, selama tidak bablas dari komitmen dan koridor yg kita bangun sendiri. 


Bayangkan, 5 jam scrolling, 8 jam tidur, 2 jam makan mandi ibadah, 7 jam kerja, 2 jam

mengeluhkan hidup. Nah, coba yg 2 jam

mengeluh itu, dan 5 jam yg scrolling itu,

dialihkan ke hal2 lain yg jelas2 ada dampak

pentingnya.


Ah, tentu saja ajakan begini tidak menarik bagi

kalian. Toh masih lama kan masa depan itu?

Lebih tertarik yg cuan cuan cuannnn biar tahun depan, atau kalau perlu minggu depan gsg kaya raya mlegedeshhhh.


Salam, J.S. Khairen.


*Begitu selesai baca postingan ini: tutup sosial mediamu. Lakukan salah 1 dari hal ini, yg ringan2 aja: telpon orangtua/ngobrol lgsg. Beli makanan jalan kaki ke warung, gausah buka hp. Baca novel, ambil yg ada di rak buku, pinjem punya temen. Latih fokusmu kembali! Fokus kita sbg manusia itu udah dilatih utk bisa tajam sejak zaman kita tinggal di goa, jgn sampai ini jd sia2. Rapikan kamarmu/rumahmu, pergi olahraga. Apalah pokoknya yg faedah.

Posting Komentar untuk "Propaganda Terkomputasi"