Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Orang Kristen Tidak Perlu Berbuat Baik, Pasti Masuk Surga!

 


“Katanya percaya Yesus langsung masuk surga, yaudah orang Kristen jadi orang bejat aja, enak!” Pernyataan ini seringkali menjadi kebingungan baik bagi orang Kristen maupun non-Kristen. Sederhananya, apakah benar orang Kristen pasti masuk surga dan/sehingga tidak perlu berbuat baik? Kita akan mencoba membahas secara sangat topik ini dalam 2 bagian secara singkat.

 

Pertama, pernyataan ini mengasumsikan bahwa keselamatan (yang seringkali di-oversimplifikasi menjadi sekadar “masuk surga”) adalah suatu hal yang bisa didapatkan dari suatu ritual tertentu, yaitu “percaya Yesus”. Seakan-akan, “percaya Yesus” hanyalah tanda kita “booking tempat” di surga. Terdapat paling sedikit 2 kekeliruan dalam pandangan ini: (1) menganggap keseluruhan perjalanan iman orang Kristen hanyalah “percaya Yesus”, (2) menganggap “percaya Yesus” hanya sebatas ucapan mulut saja.

 

Pertama, kekeliruan ada pada menganggap bahwa keseluruhan perjalanan iman seorang Kristen hanyalah “percaya Yesus”. Pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa sebelum seseorang percaya Yesus, dia harus terlebih dahulu menyadari bahwa dia adalah orang berdosa dan menyadari betapa dalamnya dosa itu. Tidak semua orang sadar dirinya berdosa. Semakin hari, kita semakin melihat bahwa bahkan hal-hal yang sudah jelas-jelas berdosa, misal LGBT, saat ini sudah tidak lagi dianggap dosa di beberapa bagian dunia. Namun tidak terbatas pada hal-hal yang sudah hitam-putih. Banyak orang menganggap dirinya tidak berdosa padahal yang dipikirkannya sehari-hari hanyalah dirinya sendiri, bagaimana aku jadi pintar, bagaimana aku jadi dokter yang sukses, dan seterusnya.

 

Pun jika seseorang sadar diri berdosa, tidak akan ada yang menyadari seberapa dalamnya dosanya tersebut. Semua orang bisa berkata musik karangan Beethoven itu indah, tapi hanya orang-orang yang belajar sungguh-sungguh tentang musik tersebut yang akan menyadari keindahan musik tersebut secara benar dan penuh. Demikian juga mungkin banyak orang yang sadar diri berdosa, tapi tidak akan ada seorang pun yang menyadarinya secara benar dan penuh, betapa dalamnya ia berdosa. Mengapa demikian? Karena semua orang telah mati dalam dosa. Seluruh pikiran, perasaan, dan kehendaknya telah dibelenggu oleh dosa sehingga – sebagaimana orang mati tidak menyadari dirinya mati demikian juga – tidak ada orang yang menyadari kalau dirinya mati dalam dosa.

 

Maka cara satu-satunya manusia bisa menyadari diri berdosa dan menyadarinya secara benar dan penuh, hanya dengan anugerah dan kebaikan Allah saja, tidak ada yang lain. Di titik ini, kita sadar adanya konsep all or none, di mana jika Allah sudah membukakan kesadaran berdosa ini kepada dia, maka tidak mungkin tidak, orang tersebut akan menyadari bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya, termasuk perbuatan-perbuatan baiknya juga. Dengan menyadari hal tersebut, dia akan sadar bahwa keselamatan itu harus berasal dari luar dirinya, yaitu pengorbanan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat satu-satunya, yang suci dan tak bercacat, yang menanggung murka Allah atas dosa-dosa kita. Oleh karena itu, siapapun kamu yang membaca artikel ini, tidak ada yang memaksa kamu percaya Yesus, namun kami mengajak kamu untuk berdoa memohon kepada Tuhan untuk menyadarkanmu akan seberapa dalam keberdosaanmu. Sadarlah bahwa tidak ada yang dapat menghapuskan dosa-dosamu, ibadahmu tidak bisa, kebaikanmu tidak bisa, pahalamu tidak bisa, mengapa? Sebab dosa kita terlalu besar dan dalam; sementara Tuhan adalah Allah yang suci dan membenci. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, keselamatan hanya, benar-benar hanya, dapat kita peroleh dari luar diri kita, tepatnya dari pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, tidak ada yang lain. Jadi pertanyaannya, kita yang sudah menyadari keberdosaan kita, apakah kita masih mau bersukacita dalam dosa dan menjadi orang Kristen yang hidupnya bejat?

 

Kalau tadi kita melihat bahwa ternyata tindakan “percaya Yesus” itu ternyata didahului oleh beberapa hal lain, sekarang kita lanjut ke kekeliruan selanjutnya: menganggap “percaya Yesus” hanya sebatas pengakuan kata-kata yang keluar dari mulut sebagai mantra. Kalau kita melihat uraian di paragraf sebelumnya, maka secara logis kita dapat menyimpulkan bahwa pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat adalah pengakuan yang berasal dari hati yang hancur dan putus asa akan keberdosaan yang membelenggu kita sehingga akan menghasilkan respon hati yang ingin lepas darinya. Kesadaran akan keberdosaan ini menuntut respon hati yang sungguh-sungguh dan tidak hanya ucapan mulut semata.

 

Poin besar yang kedua, pernyataan “orang Kristen pasti masuk surga sehingga tidak perlu berbuat baik” juga pernyataan yang melupakan kuasa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Yesus telah mati di atas kayu salib untuk menebus seluruh hutang dosa kita. Di dalam kematian-Nya itu kita melihat betapa Allah membenci dan murka terhadap dosa; di sanalah kita melihat murka Allah yang paling puncak atas dosa manusia yang ditumpahkan ke atas pribadi Yesus Kristus. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita yang menyadari akan keberdosaan kita dan yang kini melihat kebencian Allah terhadap dosa masih mau bermain-main dengan dosa? Bukankah kita sudah menyadari bahwa dosa hanya akan membawa kita kepada kehancuran dan murka Allah semata?

 

Namun tidak sampai di situ, kuasa kematian Kristus tidak hanya membuat kita tidak melakukan dosa karena rasa takut akan murka Allah, tetapi kita didorong untuk melihat alasan yang jauh lebih dalam dari itu, yaitu kasih Allah. Kita baru melihat betapa Allah membenci dosa, namun lihatlah! Lihatlah betapa besar pengorbanan yang Allah lakukan demi menyelamatkan manusia yang berdosa! Ia mengutus Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita, Yesus Kristus untuk mati di atas kayu salib menanggung murka dosa kita. Pertanyaannya, tidakkah hati kita kagum melihat kasih yang sedemikian besar dan tidak masuk akal ini? Bagaimana mungkin hati kita tidak tergerak untuk mengasihi-Nya kembali? Maka, mungkinkah kita yang sudah percaya Yesus masih hidup sembarangan di dalam dosa, yang jelas-jelas kita tahu mendukakan hati-Nya? Jelas tidak.

 

Dari penjelasan di atas maka kita melihat bahwa orang Kristen seharusnya bukan hanya tidak boleh hidup dalam dosa lagi, melainkan lebih dari itu orang Kristen harusnya tidak bisa lagi hidup dalam dosa. Orang Kristen seharusnya membenci dosa dan melakukan perbuatan yang benar. Namun, yang membedakan orang Kristen dari yang lain adalah perbuatan baik yang dilakukan orang Kristen, sama sekali tidak ditujukan agar dia bisa masuk surga, sebab jaminan itu sudah ada ketika dia percaya Yesus. Perbuatan baik itu murni dilakukannya untuk kemuliaan Tuhan.

Post a Comment for "Orang Kristen Tidak Perlu Berbuat Baik, Pasti Masuk Surga!"