Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mitos dan Fakta? Cara Melihat Gerhana Matahari Total Agar Terhindar Kebutaan

Mitos melihat gerhana matahari dapat menyebabkan kebutaan muncul ketika menteri penerangan dibawah Bpk. Harmoko era Presiden Soeharto . Gerhana Matahari total terjadi pada bulan Juni 1983. Pada saat itu ramai diberitakan melalui TVRI himbauan atau larangan kepada masyarakat melihat matahari karena dikhawatirkan  hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Lalu setelah 23 tahun berlalu Indonesia akan dilewati oleh gerhana matahari total maka pertanyaan ini kemudian muncul kembali, benarkah melihat gerhana matahari total dapat menyebabkan kebutaan?

gerhana matahari total
Gerhana matahari total

Sinar matahari sehari-hari sangat membahayakan mata. Terutama matahari pagi pada pukul 09.00 hal tersebut karena paparan sinar ultraviolet B yang dipancarkan matahari saat itu dalam intensitas sangat tinggi. Sementara itu kita ketahui, Sinar Ultraviolet B sangat berbahaya bagi mata. Apabila terpapar dalam waktu lama dapat membakar macula yaitu pusat penglihatan yang terletak pada retina. 

Yang menjadikan melihat langsung gerhana matahari total dapat merusak mata adalah karena proses terjadinya gerhana berlangsung cukup lama. Hal yang lain beresiko adalah Kemudian pada mata melihat matahari dalam kondisi gerhana total, saat itu pupil terbuka lebar karena kondisi saat itu cukup gelap kemudian secara perlahan mata terus menatap matahari yang berangsur kembali normal dan paparan sinar ultraviolet B yang semakin besar dengan mata tidak terlindung. Hal ini sangat berbahaya dan dapat merusak mata hingga dapat menyebabkan kebutaan.

Cara aman melihat gerhana matahari total

Oleh karena itu untuk melihat gerhana matahari total seharusnya dilakukan dengan cara yang aman. Berikut ini beberapa cara aman untuk melihat gerhana matahari total.

Menggunakan media air dan baskom. 

Proses gerhana matahari total dapat dilihat secara aman dengan melihat melalui bayangan matahari pada genangan air pada baskom. 

Menggunakan kacamata rayban berwarna hijau

Kacamata rayban berwarna hijau diketahui dapat menyerap sinar UltraViolet B. Tetapi meski sudah menggunakan kacamata rayban berwarna hijau, kita hanya disarankan melihat langsung gerhana matahari total pada saat puncak gerhana saja dan tidak boleh memandang matahari normal secara langsung terlalu lama. 

Menggunakan kertas yang dilubangi. 

Ambil 2 kertas hvs kemudian salah satu kertas dilubangi menggunakan jarum. Biarkan sinar matahari memancar melalui lubang pada kertas dan bayangannya ditangkap oleh kertas yang lain. 

cara melihat gerhana matahari total dengan menggunakan proyeksi kertas

Menggunakan kacamata khusus gerhana dan teleskop

Anda bisa aman melihat gerhana matahari total dengan menggunakan kacamata khusus untuk gerhana atau menggunakan teleskop.

cara melihat gerhana matahari total dengan menggunakan kacamata khusus

Sedangkan pada saat terjadi matahari total, anda diperbolehkan melihat matahari secara langsung karena saat itu sinar matahari sudah teduh. Tapi anda harus ingat kondisi tersebut hanya sebentar saja pada saat matahari sudah tertutup penuh dan hal itu hanya berlangsung sekitar 2 menit. Saat matahari sudah berangsur kembali anda tidak boleh memandang matahari secara langsung karena hal tersebut membahayakan mata anda.

Jadi sebenarnya apa yang pernah dikemukakan oleh Kementrian Penerangan 33 tahun yang lalu tidak salah. Hal tersebut bukan mitos dan bisa dianggap sikap kepedulian pemerintah supaya masyarakat yang antusias melihat gerhana matahari waspada dengan bahaya menatap gerhana matahari total.  Demikianlah penjelasan cara melihat gerhana matahari total secara aman, semoga penjelasan tersebut bermanfaat.


Lihat juga :
Inilah Lintasan Gerhana Matahari Total di Indonesia

Post a Comment for "Mitos dan Fakta? Cara Melihat Gerhana Matahari Total Agar Terhindar Kebutaan"